<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ULAYAT BENGKULU &#187; Kehutanan</title>
	<atom:link href="http://www.ulayat.or.id/tag/kehutanan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ulayat.or.id</link>
	<description>Community Development Ecological Advocation</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Nov 2009 05:42:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Minggu, 2009 April 26 Penghijauan 2000 Pohon di Sempadan sungai Rindu Hati</title>
		<link>http://www.ulayat.or.id/ulayat-news/minggu-2009-april-26-penghijauan-2000-pohon-di-sempadan-sungai-rindu-hati/.html</link>
		<comments>http://www.ulayat.or.id/ulayat-news/minggu-2009-april-26-penghijauan-2000-pohon-di-sempadan-sungai-rindu-hati/.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 09:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulayat News]]></category>
		<category><![CDATA[DAS Air Bengkulu]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Bumi]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Illegal Logging]]></category>
		<category><![CDATA[Kaur]]></category>
		<category><![CDATA[Kebijakan]]></category>
		<category><![CDATA[Kehutanan]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Penanaman Pohon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ulayat.or.id/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Masih dalam rangka peringatan Hari Bumi 2009, Ulayat bersama Forum Masyarakat Peduli DAS Air Bengkulu kembali melakukan aksi peduli bumi. Bukan dengan aksi turun ke jalan, melainkan aksi nyata bersama-sama menanam pohon di sempadan sungai. Sempadan sungai adalah areal di tepi kanan dan kiri sungai yang berpengaruh langsung terhadap kelestarian badan sungai. Bagus atau tidaknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.ulayat.or.id/wp-content/uploads/2009/04/minggu.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-131" title="minggu" src="http://www.ulayat.or.id/wp-content/uploads/2009/04/minggu.jpg" alt="minggu" width="320" height="240" /></a>Masih dalam rangka peringatan Hari Bumi 2009, Ulayat bersama Forum Masyarakat Peduli DAS Air Bengkulu kembali melakukan aksi peduli bumi. Bukan dengan aksi turun ke jalan, melainkan aksi nyata bersama-sama menanam pohon di sempadan sungai.</p>
<p style="text-align: justify;">Sempadan sungai adalah areal di tepi kanan dan kiri sungai yang berpengaruh langsung terhadap kelestarian badan sungai. Bagus atau tidaknya sempadan sungai sangat berpengaruh terhadap kondisi hidrologi dan fisik sungai. Jadi perlindungan dan pelestarian sempadan sungai sangat diperlukan untuk menjamin kondisi sungai yang baik, terutama untuk mengurangi erosi partikel tanah ke dalam air sungai dan mencegah terjadinya erosi tebing sungai (stream bank erosion).</p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan penghijauan ini dilakukan di Desa Rinduhati Kecamatan Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Tengah pada tanggal 25 April 2009. Bibit yang ditanam berjumlah 2.000 batang yang terdiri dari bibit Kayu Bawang, Mahoni, dan Sukun. Bibit tersebut diperoleh dari BPDAS Ketahun Propinsi Bengkulu. Peserta yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini mencapai kurang lebih 100 orang yang berasal dari Desa Rinduhati dan sekitarnya, anggota ForumMasyarakat Peduli DAS Air Bengkulu, Yayasan Ulayat, WALHI Bengkulu, serta Himpunan Mahasiswa Kehutnanan dan Mahasiswa Pencinta ALam Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Terlihat semua peserta baik orang tua maupun anak-anak muda sangat bersemangat. Baik para petani setempat yang berkebun di wilayah hulu DAS, maupun para pemanfaat air di hilir seperti perwakilan kelompok nelayan di muara, kelompok petani pemakai air di bagian hilir di Kota Bengkulu, hingga wakil masyarakat kelurahan di Kota Bengkulu yang selalu terkena banjir akibat rusaknya kondisi DAS Air Bengkulu. Semua bahu-membahu menanam harapan untuk kelestarian sungai yang sangat besar manfaatnya bagi masyarakat.<span id="more-106"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span class="fullpost">Kegiatan dimulai pada pukul 08.00, semua peserta terlebih dulu berkumpul di lapangan bola yang berada tidak jauh dari bantaran sungai. Dalam kesempatan itu Drs. Rusdan Tafsili, Ketua Forum Masyarakat Peduli DAS Air Bengkulu mengatakan bahwa kegiatan ini adalah kegiatan spontanitas dari forum bersama Ulayat, untuk menyebarluaskan kepedulian terhadap kondisi DAS Air Bengkulu yang sudah kritis ini. “Kondisi lingkungan di bagian hulu akan member dampak langsung bagi kehidupan masyatrakat di bagian hilir. Maka sudah seharusnya masyarakat di hilir ikut peduli, dan memberikan kontribusi untuk pelestarian daerah hulu”, terang Rusdan, yang berasal dari Kelurahan Tanjung Jaya Kota Bengkulu ini.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu ikut serta juga Camat Taba Penanjung, yang sangat menyambut baik aksi nyata kepedulian masyarakat terhadap hulu sungai di kabupaten yang baru terbentuk ini. Pak camat juga menyatakan sangat bangga atas terlaksanya kegiatan spontanitas seperti ini, dimana organisasi-organisasi social dan pemuda bersama masyarakat dari hulu sampai hilir DAS Air Bengkulu bisa berkumpul untuk bergotong royong menghijaukan desa di hulu sungai ini. Sutan Muklis, Kepala Desa Rinduhati menyatakan kegembiraannya atas kepedulian masyarakat terutama yang berada di hilir Sungai Bengkulu. Menurutnya, kegiatan seperti ini selain bermanfaat langsung terhadap kelestarian sungai, juga dapat member motivasi kepada masyarakat yang berada di hulu. Sutan Muklis juga menjelaskan bahwa Desa Rinduhati ini adalah desa yang berada di bagian paling hulu di DAS Air Bengkulu ini. Desa ini berbatasan dengan kawasan hutan lindung, dan masyarakatnya sebagian besar adalah petani.</p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan tanam pohon ini berlangsung hingga pukul 10.30 dan dilanjutkan dengan diskusi santai dan makan siang di kediaman Kepala Desa. Ada persitiwa yang membahagiakan dan bersejarah pada kesempatan tersebut. Pada sekitar pukul 09.00, pada saat kegiatan penanaman sedang berlangsung, Pak Kades Sutan Muklis mendapatkan anugerah kelahiran puteri kedua nya. Selamat berbahagia untuk Pak Muklis dan keluarga, semoga puteri yang baru saja lahir menjadi anak yang solehah dan memiliki kecintaan terhadap lingkungan. Dan Selamat Hari Bumi!</p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan ini juga di Publikasikan Oleh : http://www.kapanlagi.com/h/0000286191_print.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ulayat.or.id/ulayat-news/minggu-2009-april-26-penghijauan-2000-pohon-di-sempadan-sungai-rindu-hati/.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Korbankan Masyarakat Soal 3 Desa Masuk HPT</title>
		<link>http://www.ulayat.or.id/ulayat-news/kliping-media/jangan-korbankan-masyarakat-soal-3-desa-masuk-hpt/.html</link>
		<comments>http://www.ulayat.or.id/ulayat-news/kliping-media/jangan-korbankan-masyarakat-soal-3-desa-masuk-hpt/.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 19:04:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping Media]]></category>
		<category><![CDATA[Kehutanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ulayat.or.id/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Terkait masuknya tiga desa di wilayah Kecamatan Seluma Utara dalam kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT), sebagaimana klaim pihak Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu, ditanggapi Bupati Seluma H. Murman Effendi, SE, SH. Orang nomor satu di pemerintahan Bumi Serasan Seijoan ini, berpadangan kalau masyarakat di desa itu adalah korban. Mereka korban kelalaian pemerintah daerah tahun 1998, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Terkait masuknya tiga desa di wilayah Kecamatan Seluma Utara dalam kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT), sebagaimana klaim pihak Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu, ditanggapi Bupati Seluma H. Murman Effendi, SE, SH. Orang nomor satu di pemerintahan Bumi Serasan Seijoan ini, berpadangan kalau masyarakat di desa itu adalah korban. Mereka korban kelalaian pemerintah daerah tahun 1998, yang tidak kunjung mengeluarkan desa-desa itu dari hutan Negara (kawasan konservasi).<span id="more-49"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Diketahui, tiga desa yang masuk dalam kawasan HPT tersebut adalah, Lubuk Resam, Sekalak serta dua dusun di Desa Puguk. Desa Sinar Pagi dan Talang Empat. Pemasangan patok HPT dilakukan tahun 1988. Tanpa sosialisasi dan sepengetahuan masyarakat ketiga desa tersebut. Saat masyarakat mengetahui kalau desanya masuk dalam hutan negara, mereka langsung protes dan meminta agar kawasan tersebut dijadikan hutan rakyat, sehingga bisa dikelola warga desa tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan Bupati yang akrab disapa Ujang Puguk (UP), masyarakat hanya tahu batas hutan negara dan hutan rakyat adalah patok BW. Patok yang dipasang zaman Hindia Belanda ini hingga sekarang masih ada. Serta masih dianggap masyarakat sebagai batas hutan negara dan hutan rakyat.</p>
<p style="text-align: justify;">‘’Menindaklanjuti keberatan masyarakat ini, tahun 1998, Gubernur Ajiz Ahmad menerbitkan keputusan nomor 305. Salah satu poin pentingnya, pada pasal 5, dinyatakan bila setelah pemasangan tapal ditemukan desa, kebun dan pemukiman yang sudah ada sebelum pemasatangan patok, maka diinclave atau dikeluarkan dari hutan negara,’’ ungkap Bupati.</p>
<p style="text-align: justify;">Meski sudah ada keputusan gubernur tersebut, tetapi kenyatanyataannya sampai sekarang belum juga diinclave. Sehingga warga di tiga desa tersebut masih berada dalam HPT. Sewaktu-waktu, dengan berbagai alasan negera bisa menggusur mereka. Karena berada di kawasan hutan negara.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Pihak Dinas Kehutanan Provinsi, beberapa waktu lalu saat melakukan peninjauan ke lokasi, menerangkan kalau pengajuan alih fungsi dari hutan negara menjadi hutan rakyat tersebut sudah diusulkan. Bahkan sudah tiga kali. Tetapi, diakuinya kalau sampai sekarang belum ada persetujuan dari pusat (Menhut). Dinas Kehutanan provinsi sendiri mengaku tidak tahu persis persoalannya.(sip)</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <a href="http://www.harianrakyatbengkulu.com/ver2/mod.php?mod=publisher&amp;op=viewarticle&amp;artid=277">http://www.harianrakyatbengkulu.com/ver2/mod.php?mod=publisher&amp;op=viewarticle&amp;artid=277</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ulayat.or.id/ulayat-news/kliping-media/jangan-korbankan-masyarakat-soal-3-desa-masuk-hpt/.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkebunan Andalan Bengkulu Kini</title>
		<link>http://www.ulayat.or.id/ulayat-news/kliping-media/perkebunan-andalan-bengkulu-kini/.html</link>
		<comments>http://www.ulayat.or.id/ulayat-news/kliping-media/perkebunan-andalan-bengkulu-kini/.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 18:20:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kliping Media]]></category>
		<category><![CDATA[Bengkulu]]></category>
		<category><![CDATA[Kehutanan]]></category>
		<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ulayat.or.id/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar 578.548 hektare atau 45 persen dari 920.964 hektare hutan yang ada di Provinsi Bengkulu saat ini dalam kondisi rusak berat. Hutan yang rusak itu tersebar di sembilan daerah tingkat II di Bengkulu. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu, Ir Sugito di Bengkulu, Minggu (29/8). kerusakan hutan bengkulu ini diakibatkan perambahan hutan yang dilakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><img class="alignleft" style="margin: 5px;" title="Perkebunan" src="http://www.fibre-x.com/images/pokok_sawit.jpg" alt="" width="331" height="211" /><span style="font-size: 11pt; font-family: Verdana;"><em>Sekitar 578.548 hektare atau 45 persen dari 920.964 hektare hutan yang ada di Provinsi Bengkulu saat ini dalam kondisi rusak berat. Hutan yang rusak itu tersebar di sembilan daerah tingkat II di Bengkulu. </em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt; font-family: Verdana;">Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Bengkulu, Ir Sugito di Bengkulu, Minggu (29/8). kerusakan hutan bengkulu ini diakibatkan perambahan hutan yang dilakukan oleh  masyarakat dengan mengalih fungsikan kawasan hutan menjadi lahan-lahan pertanian dan perkebunan seperti tanaman  keras berupa kopi, coklat dan kemiri, sawit dan karet. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt; font-family: Verdana;">disamping itu laju degradasi  hutan  juga disebabkan masih maraknya kegiatan pembalakan liar (<em>Ilegal logging</em>) oleh para cukong kayu dengan memanfaatkan masyarakat di sekitar tepian hutan di beberapa daerah tingkat II di Bengkulu. Aksi pembalakan liar itu terjadi di beberapa kasawan hutan lindung, Kawasan hutan produksi (HPT) dan tanaman nasional kerinci sebelat (TNKS) di wilayah Bengkulu Utara, Rejang Lebong dan taman nasional bukit barisan selatan (TNBBS) (kab. kaur), dan pembukaan kawasan hutan oleh pihak perusahaan perkebun.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt; font-family: Verdana;">Propinsi <em>Bengkulu</em> memiliki <em>luas</em> wilayah 1.978.870 ha atau 19.788,7 Km2 dengan jumlah penduduk propinsi bengkulu mencapai lebih kurang 1, 9 juta jiwa yang tersebar di 8 kabupaten dan 1 kota dan 1 daerah pemkaran (benteng/bengkulu tengah), dengan krakteristik wilayah yang berbukit sehingga wajar jika hampir lebih dari 70 persen masyarakat bengkulu memiliki mata pencarian dari sektor pertanian khususnya baik dilahan kering maupun dilahan basah. jika setiap petani memiliki luas lahan/orangnya 1 ha maka total luas lahan pertanian dan perkebunan mencapai lebih kurang 1.385.209 ha.  saat ini total luas perkebunan sawit yang dikelola perusahaan perkebunan kebun mencapai lebih dari 53.399,84 Ha.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt; font-family: Verdana;">Dengan semakin maraknya pembukaan dan perluasan lahan oleh para pengusaha khususnya disektor perlebunan dengan tidak memperhatikan masyarakat lokal telah menyebakan banyak masyarakat lokal terus tergusur dan semakin miskin. hal ini di sebabkan karena hilangnya akses ekonomi masyarakat. kondisi inilah yang menyebabkan banyak masyarakat desa khususnya para masyarakat yang kehilangan akses terhadap sumber daya yang dimilikinya, resiko terhadap pembukaan kawasan hutan untuk dijadikan sebagai lahan pertanian dan perkebunan pun menjadi alternatif guna menyambung masa depan mereka, kondisi ini tentu saja disebabkan oleh pemerintahan yang kurang memperhatikann masyarakat dan lebih mendukung para investor untuk dapat menanamkan saham di daerah. perburuan lahan oleh masyarakat dikawawasan hutan diperkirakan akan terus meningkat, hal ini tentu saja juga di picu dengan terus meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk dan semakin susahnya mencari lapangan pekerjaan. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt; font-family: Verdana;">jika kondisi ini terus terjadi maka dapat di pastikan ancaman bencana ekologi merupakan sebuah hal yang harus siap dihadapi oleh masyarakat khususnya bengkulu, disamping bendana alam yang memang menjadi bagian dari propinsi yang subur ini.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt; font-family: Verdana;">mungkin hal yang penting dilakukan adalah dengan memberikan akses kepada masyarakat untuk dapat melakukan pengelolaan sumber daya alam (khususnya pengelolaan lahan) sehingga lahan-lahan terlantar di propinsi bengkulu yang lebih kurang mencpai 600 ribu ha, dapat mnjadi lahan-lahan yang produktif yang dapat mmberikan nilai tambah kepada masyarakat serta meningkatkan PAD, tanpa harus melakukan pengerusakan didalam kawasan hutan.(tanto)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.ulayat.or.id/ulayat-news/kliping-media/perkebunan-andalan-bengkulu-kini/.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
