Dalam pengelolaan hutan, pemahaman kondisi spasial sangat dibutuhkan karena berpengaruh terhadap pemanfaatan ruang dan wilayah sektor kehutanan. Pengembangan wilayah yang pesat seperti industri, pertambangan, perhubungan, dan pertanian akan berdampak pada perubahan tutupan hutan di beberapa bentang alam. Kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan yang dilakukan oleh  pemerintah maupun non pemerintah (NGO) akan berdampak positif dalam perbaikan tutupan hutan jika disertai pemahaman data dan informasi  bentang alam dan tata ruang.

Selain upaya reforestasi, rehabilitasi hutan dan kegiatan-kegiatan lainnya di lapangan, para pihak yang terlibat dalam pengelolaan hutan haruslah dapat menjawab beberapa pertanyaan seperti berapa banyak tutupan hutan yang masih tersisa atau seberapa besar tutupan hutan yang telah hilang? Bagaimana kondisi hutan yang masih tersisa saat ini? Hal tersebut menjadi informasi dasar dalam upaya pengendalian dan pemulihan kerusakan hutan. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian yang objektif terhadap kondisi hutan agar dapat menjawab permasalahan tersebut.

Perkembangan teknologi saat ini bisa menggunakan penginderaan jauh dengan dukungan data spasial yang mudah didapat. Kondisi spasial yang meliputi tutupan hutan, bentang alam, dan tata ruang, menjadi perhatian Konsorsium Ulayat dalam upaya penyelamatan hutan koridor TNKS-TNBBS Provinsi Bengkulu.

Inisiatif dilakukan  dengan menghimpun informasi sebagai dasar pengelolaan hutan di Bengkulu.Konsorsium melakukan analisis tutupan hutan dan penggunaan lahan serta menyinergikannya dengan kebijakan tata ruang wilayah.

Meraih Peta yang Akurat

Metode pemetaan menggunakan teknologi penginderaan jauh dengan sumber data citra ALOS Avnir-2 dan Landsat 8 yang kemudian dianalisis menggunakan software GIS (Geographic Information Sistem).  ALOS (Advanced Land Observing Satellites) merupakan satelit observasi bumi yang cukup akurat untuk mengetahui jenis tutupan lahan.  Luas wilayah rekaman citra ALOS untuk setiap scene-nya (satuan gambar citra) mencakup area seluas 70 x 60 km2 dengan resolusi spasial  10 meter, yang berarti setiap 1 pixel objek mewakili 10 x 10 meter ukuran sebenarnya.  Citra ini dapat digunakan sebagai sumber peta  hingga skala 1:10.000.

Dalam tahap analisis spasial, hasil klasifikasi tutupan lahan ditumpang susun (overlay) dengan data rupa bumi dan tata ruang Provinsi Bengkulu. Kajian ini menghasilkan beberapa informasi seperti luas areal berhutan, sebaran lokasi hutan, tutupan hutan yang hilang, tekanan terhadap hutan, serta kondisi dan penggunaan lahan. Selain itu informasi ini juga dikembangkan untuk mengidentifikasi potensi pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PHBM).

 

Menilik Hutan di Koridor TNBBS – TNKS

Hutan di jajaran bukit barisan merupakan gudang keanekaragaman hayati (biodiversity) dan sumber plasma nutfah yang memiliki kesamaan karakter antara TNKS dan TNBBS.  Namun hutan-hutan di koridorini mengalami deforestasi dan degradasi.Salah satunya berupa alih fungsi lahan sebagai  konsekuensi dari pembangunan  di berbagai sektor.Tahun 2013, luas kerusakan hutan koridor TNKS-TNBBS mencapai ±178.000 hektar atau mencapai 38%  tutupan hutan.

Di Koridor TNBBS-TNKS ini, tingkat kerusakan hutan terparah adalah diKawasan Konservasi (Cagar Alam, Taman Wisata Alam, dan Taman Buru) yaitu sebesar 70%.Untuk kawasan hutan produksi tersisa sekitar 20% hutan primer, 18% di HPT (Hutan Produksi Terbatas),2 % di HP (Hutan Produksi) dan 0,2% di HPK (Hutan Produksi Konversi).

Kondisi hutan lindung masih relatif  bagus dengan  69% kawasan berupa hutan primer.  Tutupan hutan koridor TNKS-TNBBS tidak hanya terdapat pada kawasan hutan saja.  Terdapat 12.453 hektar  area yang bukan termasuk kawasan hutan dengan tutupan hutan primer seluas 2.466 hektar.

Tutupan Lahan di Koridor TNBBS-TNKS

 

Alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian campuran mendominasi kerusakan hutan di Koridor TNKS-TNBBS.  Sebesar 141.512 hektar atau 30% dari luas koridor ini telah berubah menjadi areal pertanian.  Tanaman kopi menjadi primadona masyarakat untuk dibudidayakan di dalam kawasan hutan.  Perkebunan karet dan sawit juga termasuk kedalam jenis lahan pertanian yang menekan keberadaan hutan. Selain itu, beberapa konsesi perkebunan sawit yang berbatasan dengan kawasan hutan juga terindikasi turut andil dalam penyebab alih fungsi hutan.  #PratamaDedy_WARU

Leave a Reply

Your email address will not be published.