Desa Air Sulau, Inspirasi Desa Konservatif Mandiri Ekonomi : Era teknologi di berbagai bidang yang semakin maju dan berdaya saing tinggi tentulah diikuti oleh sumber daya manusia yang mumpuni sehingga mampu menciptakan berbagai kreasi dan mampu bersaing. Kondisi daya dukung lingkungan yang semakin tidak stabil sekarang ini haruslah memperhatikan prinsip keberlangsungan sehingga kreasi-kreasi yang dimunculkan tidak semata-mata pada sektor ekonomi, lebih dari itu harus memiliki keberlangsungan lingkungan yang sehat, kemadirian serta kaya dengan inisitaif-inisiatif di dalamnya.

Impian menjadi desa yang mandiri tentu menjadi impian setiap warganya. Mandiri pangan, mandiri ekonomi dan konservatif membutuhkan sentuhan yang tidak sederhana. Konsep pendekatan lingkungan harus ditanamkan secara prinsip dalam mewujudkan impian tersebut.

Lingkungan tanpa ekonomi adalah omong kosong, sebaliknya ekonomi dengan mengabaikan lingkungan adalah kiamat.  Berangkat dari pemikiran inilah masyarakat Desa Air Sulau Kecamatan Kedurang Ilir Kabupaten Bengkulu Selatan ini mengembangkan konsep keseimbangan lingkungan melalui model pembangunan yang mengedepankan nilai-nilai lingkungan tetapi manfaat ekonomi juga dapat dirasakan. Beberapa model yang dikembangkan di desa ini adalah sebagai berikut.

Energi Alternatif Biogas

Kotoran sapi selain tidak enak untuk dipandang juga menghasilkan bau yang tidak sedap, apalagi sudah menjadi tumpukan yang cukup banyak. Tapi tidak disangka bahwa kotoran sapi justru memberikan manfaat yang besar ketika diolah menjadi sumber energi yang ramah lingkungan. Hal itulah yang mendorong masyarakat Desa Air Sulau untuk mengembangkan konsep energi alternatif dari kotoran sapi. Banyaknya jumlah sapi yang ada di Desa Air Sulau sangat dimungkinkan untuk mengembangkan energi alternatif yang bernama biogas ini.

Lebih kurang empat tahun yang lalu di tahun 2010, desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kaur ini mulai merancang pemanfaatan kotoran sapi menjadi energi (biogas). Dalam tahapan pengelolaannya, budaya masyarakat Air Sulau yang mengandangkan ternak sapi menjadi faktor pendukung dalam pembuatan instalasi biogas, mengingat di desa lainnya khususnya kabupaten Bengkulu Selatan budaya menernak sapi dengan dilepas liarkan masih banyak ditemukan. Ternak sapi yang di kandangkan akan memudahkan pengumpulan kotoran yang merupakan sumber utama energi ini.

Bangunan instalasi biogas ini sangatlah sederhana, tabung yang berfungsi untuk menampung kotoran sapi yang mengandung gas kemudian dihubungkan ke kompor khusus biogas melalui pipa yang dilengkapi dengan alat pengukur tekanan gas. Tabung (gaster) ini bermacam macam ukuran sesuai dengan jumlah sapi dan jumlah kompor yang akan disaluri. Untuk gaster yang berkapasitas 5 m3 dibutuhkan setidaknya tujuh sampai delapan ekor sapi dan mampu menyalurkan ke tiga buah rumah dengan satu kompor setiap rumahnya. Pada saat menambahkan kotoran sapi ke dalam gaster, kotoran yang tertampung sebelumnya yang sudah menjadi limbah akan keluar dengan sendirinya ke dalam bak penampungan yang ada.

Saat ini sudah ada delapan bangunan instalasi biogas di desa ini yang masih berfungsi dengan baik dan sangat membantu dalam hal pemenuhan kebutuhan energi setiap hari. “kalau sekarang setiap mengisi 30 kg kotoran sapi, bisa menghidupkan kompor selama dua minggu”, terang Pak Ardi salah satu pemilik kompor biogas di Desa Air Sulau.

Kemajuan teknologi dibidang pertanian saban hari semakin meningkat dan kian dirasakan. Pertanian organik misalnya, adalah sistem pertanian yang didorong dan memberi batasan pada sistem pertanian konvensional yang sarat dengan penggunaan pestisida dan pupuk sintetik. Dengan metode pertanian organik yang fokus pada cara-cara alami, pengolahan tanah dan penggunaan bahan non sintetik lainnya tetapi mampu memberikan hasil yang tidak kalah dengan pertanian konvensional.

Sejak 2011 yang lalu Desa Air Sulau sudah memulai praktik pertanian organik, dimulai dari pengolahan tanah dan penggunaan pupuk.  Untuk mendapatkan pupuk organik ini adalah dengan memanfaatkan limbah/ampas biogas (bio slurry) yang di olah menjadi pupuk kompos padat ataupun cair (POC). Pupuk organik cair yang dibuat melalui pencampuran dengan perbandingan tertentu, bio slurry, air seni sapi, air gula, air, dan ragi yang nantinya akan menghasilkan biang pupuk, biang pupuk ini dicampur dengan air dengan perbandingan tertentu pula sebelum diberikan pada tanaman. POC ini sangat baik untuk tanaman sayuran dan tanaman budidaya lainnya seperti karet. Saat ini di Air Sulau sudah menghasilkan seratus hingga dua ratus liter pupuk organik cair setiap bulannya. Hasil produk pupuk organik baik jenis padat maupun yang cair ini, selain memberikan manfaat dalam upaya mendorong pertanian organik di Desa Air Sulau, juga memberikan manfaat ekonomi langsung karena kedua jenis pupuk ini juga diminati oleh masyarakat di luar desa terutama masyarakat yang sudah mengenal dan memulai metode pertanian organik. Untuk jenis pupuk kompos padat dijual dengan harga 25,000 perkarung dengan kisaran berat 30 kg. Sedangkan pupuk organik cair dijual dengan harga 9000 setiap liternya.

Pekarangan Sumber Pangan

Akhir-akhir ini isu ketahan pangan semakin didengungkan bahkan sampai ke pelosok-plosok wilayah. Isu ini adalah upaya dalam menghadapi isu pemanasan global dan perubahan iklim (climate change). Dorongan ketahan pangan bagi masyarakat ini disuarakan oleh berbagai pihak, baik lembaga lokal maupun internasional. Tidak ketinggalan pemerintah Indonesia baik pusat bahkan daerah juga konsen dengan isu ketahan pangan ini melalui program-programnya. Ketahan pangan sendiri adalah ukuran kelentingan sesorang atau keluaraga dalam menhadapi gangguan akses bahan pangan di masa datang yang dipengaruhi oleh gangguan suplai bahan pangan tersebut.

Kebun mini, kebun keluarga, TABULAPOT adalah contoh dari sekian banyak upaya ketahan pangan memlalui pemanfaatan lahan pekarangan. Upaya ini tentu dilakukan dengan metode pertanian organik sehingga menhasilkan produk yang bernilai gizi tinggi. Adapun jenis tanaman yang dikembangkan bermacam-macam, tanaman buah, sayur dan bumbu-bumbuan.

Jika anda berkunjung ke Desa Air Sulau, maka akan melihat pekarangan rumah yang dipenuhi oleh tanaman seperti buah,sayur, umbi-umbian serta tanaman bumbu yang berjejer di rumah-rumah warga. Tanaman ini ada yang ditanam di pot dan ada juga yang langsung di tanah. Produk tanaman pekarangan ini tentulah segar dan alami karena pengolahannya tanpa pestisida dan pupuk sintetik. Sedangkan untuk menjaga kesegaran dan pertumbuhan yang baik, masyarakat menggunakan pupuk organik yang diolah dari limbah biogas. Pemanfaatan lahan pekarangan yang dilkukan di Desa Air Sulau ini sudah berlansung sejak 2011 yang lalu, artinya selama itu pula masyrakat Air Sulau sangat terbantu dalam hal pemenuhan kebutuhan pangan, cukup beberapa langkah saja untuk mendapatkannya.

Sejarahnya, Desa Air Sulau ini pernah menjadi pusat sayur mayur yang mampu menyuplai kebutuhan sayuran di Kabupaten Bengkulu Selatan, itu terjadi pada sekitar tahun 90an. Saat ini, dari hasil sayuran dan tanaman pangan lainnya yang dikembangkan melalui pemafaatan lahan perkarangan juga dipasarkan ke pasar-pasar tradisonal di Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur secara periodek oleh pengumpul yang ada di Desa Air Sulau, selain untuk memenuhi kebutuhan dapur keluarga.

Pembangunan Hutan Rakyat

Bagi masyarakat yang berada di sekitar hutan tentu memaknainya sangat sederhana. Bagi mereka hutan adalah anugrah dari tuhan, sudah barang tentu memberikan manfaat yang sangat besar, hutan memberikan kehidupan. Semakin baik hutan semakin besar pula manfaat yang diberikannya, baik manfaat secara langsung ataupun manfaat tidak langsung.

Solusi penyelamatan hutan alam yang semakin terdegradasi adalah mengembangan model hutan rakyat. Hutan rakyat sendiri dapat dibedakan berdasarkan status tanahnya, hutan milik adalah hutan yang dikelola di atas tanah sendiri, hutan adat atau hutan desa adalah hutan yang dibangun di atas tanah komunal dan hutan kemasyarakatan (HKm) yaitu hutan yang dibangun di atas lahan negara. Secara umum hutan rakyat yang dibangun dan dikelola oleh rakyat di atas tanah milik adalah keseluruhan dari kegiatan-kegiatan merumuskan, membina dan mengembangkan serta penanganan produksi.

Awal 2013 yang lalu masyarakat Air Sulau mempunyai rencana mengembangkan lahan yang mereka miliki yang selama ini belum dikelola secara baik. Dengan berbagai upaya, mendapatkan informasi kesana kemari akhirnya timbulah gagasan untuk mengembangan lahan tersebut menjadi hutan rakyat. Hutan rakyat sendiri dikelola secara wanatani dengan tetap menjaga kelestariannya dan memperkaya jenis tanaman, tanaman kayu dan tanaman penghasil lainnya.

Gagasan yang disertai dengan semangat yang tinggi, di tahun yang sama tahapan-tahapan pekerjaan mulai dilaksanakan, mulai dari pematangan gagasan, berbagai pelatihan, pembentukan kelompok yang sekarang bernama kelompok hutan rakyat Bumi Sulau Lestari, identifikasi dan pemetaan lahan yang akan dikelola dan pembibitan.

Dari hasil pemetaan yang dilakukan oleh kelompok terdapatlah luas hutan rakyat yang akan dikelola seluas 421,9 hektar, di mana luas tersebut merupakan keseluruhan lahan yang dimiliki dari masing-masing anggota kelompok. Pada lahan tersebut juga terdapat jenis tanaman kayu yang sebelumnya sudah tumbuh secara alami.

Upaya untuk pengkayaan jenis pada hutan rakyat ini, kelompok hutan rakyat Bumi Sulau Lestari sudah menentukan jenis-jenis yang akan ditumbuh kembangkan pada lahan tesebut. Untuk jenis kayu, kelompok menyepakti jenis kayu bawang, mahoni, bayur, sengon, akasia medang-medangan dan tanaman kayu lokal lainnya. Sedangkan jenis non kayu seperti pala, nangka, jengkol, petai dan penghasil buah lainnya. Jenis-jenis tanaman ini akan dipusatkan di lahan pembibitan yang dimiliki dan dikelola oleh kelompok BSL seluas 4000 meter persegi yang saat ini sudah berjalan.

Waktu setahun berjalan terasa singkat bagi kelompok ini, kegiatan demi kegiatan terus dilaksanakan. Bengkel kerajinan pun dimunculkan sebagai wadah kreativitas masyarakat dalam membuat produk-produk kerajinan dari bahan kayu yang bernilai dan dapat menunjang ekonomi kelompok. Produk kerajinan ini dibuat dari kayu limbah atau sisah kayu olahan yang sudah tidak dimanfaatkan lagi, misalnya sisah pembuatan meubel, sisah-sisah tebangan yang bisa dibuat kerajinan bernilai seni tinggi.

Saat ini, beberapa produk kerajinan yang dihasilkan dari bengkel kerajinan milik kelompok seperti file box, tarikan pintu, bingkai foto, kotak pena, kotak tisu dan masih bayak lagi, sudah bisa dikenalkan dan mulai dipasarkan. Salah satu upaya mereka mmengenalkan hasil kerajinan mereka adalah dengan ikut berpartisipasi dalam acara pameran kerajinan di Desa Air Sulau yang dihadiri oleh Gubernur Bengkulu.

Lahan Usaha Desa Terpadu

Seluas 4000 meter persegi di dalamnya terdapat aliran air dan kolam genangan serta ditumbuhi beberapa pohon pisang, terletak di pemukiman Desa Air Sulau. Status lahan ini adalah milik pemerintahan desa. Sebelumnya lahan ini pernah diolah menjadi sawah karena ketersediaan airnya yang cukup. Lahan seluas inilah oleh masyarakat desa dijadikan lahan usaha terpadu yang akan mendorong penguatan ekonomi desa.

Bermodalkan semangat gotong royong serta kswadayaan yang tinggi, lahan inipun mulai digarap. Diawali dengan penyesuaian lahan berdarkan potensi pengembangan dan petak-petak ukuran, sehingga ditemukanlah jenis kegiatan usaha yang akan dikembangkan. Pada lahan yang digenangi air yang berbentuk kolam, masyarakat mengembangkan budidaya ternak itik yang dilenkapi dengan kandang. Saat ini jumlah itik yang dikembangkan lebih kurang 400 ekor. Budidaya itik ini merupakan bantuan dari program PNPM MP 2014, kedepannya dari kegiatan ini diharapkan mampu memproduksi teluar itik yang dapat mendongkrak pendapatan desa dan keluarga.

Pada bagian belakang lahan ini, dibangun kandang sapi berkapasitas delapan ekor. Sapi ini juga bantuan dari dinas perternakan berikut bangunan kandangnya. Kegiatan usaha ini juga diharapakan mampu menambah incam desa maupun keluarga. Selain pembesaran sapi, akan dikembangkan pula kotoran sapi tersebut menjadi kompos, yang nantinya bisa digunakan masyarakat untuk menunjang kegiatan masyarakat lainnya seperti bertani atau pupuk kompos ini dijual.

Pada bagian tengah yang cukup datar, dibangun pusat pembibitan berbagai jenis tanaman, tanaman kayu dan tanaman penghasil buah. Pembibitan ini merupakan pusat pembibitan hutan rakyat yang sedang dikembangkan di desa ini. Selain memenuhi kebutuhan bibit untuk pengembangkan hutan rakyat, pembibitan ini akan dikembangkan menjadi pusat penyediaan bibit secara luas.

Lahan terpadu desa ini pada masing-masing kegiatan usaha yang ada di dalamnya, oleh masyarakat dibuat pula sistem kerjanya. Dimulai dari pembagian jadual piket untuk melakukan perawatan, mencari pakan sapi, memberi makan itik dan menyiram bibit tanaman. Sedangkan untuk kegiatan yang membutuhkan tenaga yang lebih besar, masyarakat melakukan gotong royong yang dikomandoi oleh direktur masing-masing kegiatan, misalnya pengisian polybag, membuat bangunan perbaikan jalan akses dan lain sebagainya. #Alapz Ulayat ID

Leave a Reply

Your email address will not be published.