Pengolahan hutan berbasis masyarakat atau dikenal dengan PHBM merupakan suatu pengolahan hutan yang sudah lama di lakukan oleh masyarakat dan pemerintah.  Hal ini bertujuan untuk tetap lestarinya hutan dan kebutuhan ekonomi masyarakat tetap terpenuhi.  Banyak dalam pengolahan ini dilakukan oleh masyarakat yang memang menggantungkan hidupnya dari hutan dan tetap ingin menjaga hutan agar segala kebutuhannya dapat terpenuhi dan secara ekologi terjaga.  Begitu halnya yang terjadi di Desa Tebat Monok salah satu desa yang terdapat di Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu.  Desa Tebat Monok merupakan desa yang memiliki izin pengolahan Hutan Kemasyarakatan (HKm) di areal Hutan Lindung pada tahun 2009,  dalam hal ini masyarakat diberikan izin pengelolaan selama 35 tahun dengan evaluasi pengelolaan selama 5 tahun sekali.

Banyak masyarakat yang merasakan manfaat dalam pengolahan HKm ini, mereka dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan juga tetap menjaga kelestarian hutan.  Yayasan Ulayat Bengkulu melihat kondisi dan potensi yang ada tersebut melakukan pendampingan dalam pelestarian hutan dan penguatan ekonomi, banyak aspek yang dilakukan dalam hal kegiatan pendampingan ini salah satunya melakukan penguatan ekonomi masyarakat di bidang pengolahan makanan yang dapat menambah pendapatan masyarakat tanpa harus bergantung sepenuhnya dengan hutan.

Masyarakat Desa Tebat Monok yang memiliki hak pengelolaan HKm terdiri dari 6 kelompok tani HKm yang kemudian bersatu menjadi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).  Gapoktan ini tidak hanya memanfaatkan hasil hutan yang ada tapi juga mengelola, melestarikan dan menjaga.  Proses pendampingan Ulayat terhadap Desa Tebat Monok tidak hanya terfokus pada pemeliharaan dan pemanfaatan hasil hutan tetapi juga bagaimana masyarakat dapat meningkatkan pendapatan tanpa bergantung dari hasil hutan yang selama ini masih banyak dilakukan.  Desa Tebat Monok sudah lama dikenal menjadi pusat oleh-oleh karena lokasinya yang menjadi pusat perlintasan perjalanan jika kita akan ke provinsi lain seperti Sumatera Selatan, Jambi maupun kabupaten lain yang ada di Provinsi Bengkulu.

Sudah sejak tahun 2000 ibu-ibu melakukan kegiatan pengolahan makanan dengan melakukan kreasi dan inovasi dalam produk yang dihasilkan.  Produk yang dihasilkan antara lain keripik, salai, dodol, dan manisan, bahan baku yang digunakan dalam memproduksi makanan yaitu ubi, pisang, talas, pepaya, dan pala.  Keterampilan yang dimiliki oleh para ibu yang ada dijadikan salah satu alasan Ulayat melakukan pendampingan.

Kegiatan pendampingan yang disambut dengan sangat antusias salah satunya yaitu magang di Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat.  Ibu-ibu yang berangkat merupakan anggota HKm dan mereka sangat antusias dalam mengikuti setiap ilmu baru yang diajarkan, seperti bagaimana cara membuat manisan pala, dan aneka kreasi pembuatan keripik yang selama ini belum ada di Desa Tebat Monok.  Selama 7 hari masyarakat melakukan magang dan mendapatkan banyak ilmu yang dapat dibagikan kepada ibu-ibu lainnya yang ada di desa.  Setelah kegiatan magang selesai masyarakat melakukan transfer ilmu kepada ibu-ibu lainnya yang ada di Desa Tebat Monok dan kegiatan tersebut disambut dengan antusias.

Semangat yang ditunjukkan oleh ibu-ibu dan anggota HKm lainnya menunjukkan bahwa mereka memiliki cita-cita yang tinggi untuk tidak selamanya hidup bergantung hanya dari hasil hutan dan mereka sudah sangat  mengerti jika hutan merupakan tempat yang sangat penting dalam pemeliharaan kebutuhan sehingga harus tetap terjaga dengan baik. #MHW Ulayat ID

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.