Sungai menjadi rahim paling kokoh bagi air. Sungai mengandung kehidupan sosial budaya masyarakatnya pada masa lampau, masa kini dan masa depan. Meminjam istilah ‘kepunahan’ flora dan fauna, apakah yang akan terjadi jika sungai mengalami kepunahan?

Ada 134 sungai induk dan anak sungai yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Provinsi Bengkulu. Sungai ini menyebar di 10 kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu. Sungai memberi roh kehidupan sosial budaya bagi masyarakat, sungai bagaikan tempat kehidupan dimulai, sejak matahari terbit dan tenggelam setiap harinya.

Potensi Pertanian

Hidup di daerah pesisir barat Sumatera dengan sembilan sungai yang melintasi Kabupaten Bengkulu Selatan membuat Kabupaten Bengkulu Selatan menjadi salah satu leading sector pertanian tanaman pangan. Sembilan sungai tersebut mengairi 8.280 hektar sawah dan luas panen 16.953 hektar sawah dengan produksi 78.487 ton di tahun 2012. Tentu saja Bengkulu Selatan menyumbang hasil produksi tanaman pangan, khususnya padi cukup dominan di Provinsi Bengkulu.

Ke sembilan sungai tersebut menjadi tumpuan hidup masyarakat Kabupaten Bengkulu Selatan. Irigasi-irigasi dialiri kesembilan sungai di Bengkulu Selatan. Walaupun masih ada sawah yang tidak dapat dijangkau aliran sungai, dan memanfaatkan hujan sebagai sumber air bagi tanaman sawah. Sungai-sungai tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengairan tanaman pangan, berburu ikan dan berbagai aktifitas domestik lainnya. Ketergantungan masyarakat dengan sungai membuat sungai menjadi pusat ekonomi sekaligus sosial budaya bagi masyarakat setempat. Selain menjadi penyangga pertanian, sungai menjadi lahan pengembangan ekonomi lainnya.

Kekayaan Sungai yang Tak Disadari

Berbagai sungai di Kabupaten Bengkulu Selatan mempunyai berbagai jenis ikan sungai. Di sepanjang sungai Pino, sungai Air Manna, Air Delengau, Air Kedurang, beragam ikan sering diburu masyarakat baik dikonsumsi sendiri maupun dijual kembali. Di semua sungai yang berada di Kabupaten Bengkulu Selatan, masyarakat sering berburu ikan Pelus, Sereni, Beringit, Sema, Belanak, Mungkus, Kadar.Ikan-ikan ini berada sebagai sistem hidrologi yang tak terpisahkan dari masyarakat lokal. Ikan-ikan tersebut menjadi bagian dari rutinitas keseharian masyarakat setempat.

Ikan pelus, ikan berbentuk panjang seperti belut dengan corak hitam agak kekuningan ini sangat disukai oleh masyarakat. Ikan ini paling suka memakan memakan ikan kecil dan udang kecil yang hidup dalam sungai. Masyarakat lokal menjualnya dengan tidak menggunakan timbangan kilogram, melainkan satuan ‘cumpuk’ yang satuannya ditetapkan masyarakat lokal.

Pelus hidup di sungai air tawar di semua sungai di Bengkulu Selatan. Namun,Ikan dengan mudah dijumpaui di sepanjang Sungai Air Manna, Air Delengau, Air Pino, dan Air Kedurang.Untuk mendapatkan ikan ini masyarakat setempat biasanya menggunakan kail pancing dan kail mata. Ikan ini tanpa sisik dan mempunyai banyak lendir, hal itulah yang membuat pelus lebih mudah didapatkan dengan kail pancing dan kail mata. Karena ketika sudah tersenggol dengan besi, ikan tersebut langsung lengket dan mudah didapatkan.

Menurut legenda masyarakat setempat, ikan pelus dulunya mempunyai ukuran yang sangat besar.  Ukurannya bisa mencapai 2-3 meter per 1 ekor ikan dan kerap kali memakan binatang selain ikan di sekitar sungai ketika air sungai mulai surut. Misalnya, ayam atau musang yang kebetulan berada di sekitar sungai. Tapi dewasa ini, ikan pelus paling besar hanya sebesar tiga jari saja, tidak lagi sebesar 2-3 meter.

Arpin (48), tokoh masyarakat Kecamatan Pino Kabupaten Bengkulu Selatan menjelaskan dirinya tidak terlalu menyukai ikan pelus, walaupun rasanya ‘gemuk’ (enak).  Arpin menjelaskan bahwa selama hidupnya, Arpin tidak pernah menemui telur ikan pelus, baik dalam tubuh ikan pelus maupun dalam lubang-lubang tempat hidup ikan pelus.  Ia menjelaskan ikan pelus berkembang biak dengan ‘pelus pati’, pelus yang berukuran besar, dan jarang ditemui.

Lain halnya dengan ikan Mungkus, ikan yang juga digemari masyarakat lokal, ikan ini hanya dapat hidup di sungai air deras dan ditemukan di dekat bebatuan. Ikan ini berbentuk kecil, bahkan jarang yang berbetuk lebih dari tiga jari. Ikan ini memakan lumut-lumut yang berada di bebatuan, makanya ikan ini sering terlihat di antara bebatuan. Di sembilan sungai di Kabupaten Bengkulu Selatan, hanya sungai Air Pino yang jarang ditemui ikan ini. Ikan ini banyak ditemui di Sungai Aik Nelengau, Air Manna.

Selain itu, ikan Sema juga menjadi favorit masyarakat lokal. Ikan yang berbentuk panjang dan bewarna putih ini diakui sebagaiikan dengan daging yang sangat enak dan gurih. Masyarakat lokal sering menyebut ikan Sema untuk ikan yang berukuran besar dan ikan ‘Ngareng’ atau ‘Cengka’ untuk ikan Sema yang berukuran kecil. ikan ini ikan paling susah dicari dan dihargai paling mahal. Biasanya satu ikan berukuran empat jari, dihargai 20.000 per ekor, yang paling sebesar 3-4 ons.  Ikan ini berkembang biak secara cepat dan sekali menetas dapat menetaskan ribuan anak ikan, walau yang bertahan tidak sebanyak itu.

Walau sama-sama hidup di air deras, baik ikan Sema maupun Cengka mempunyai kebiasaan tersendiri.  Ikan Sema hidup di sungai lubuk dengan air yang sangat deras dan ikan Cengka hidup di sungai dangkal. Hal inilah yang membuat ikan Sema sulit ditemui, karena ikan ini hidup di sungai yang dangkal.

Satu lagi ikan yang sering ditemui, ikan Guan atau Gabus yang hidup di sungai. Ikan ini lebih mudah dijumpai dan banyak beredar di pasaran. Ikan ini lebih tidak tahan lama hidup di daratan dan tidak mau hidup di dalam air yang tidak mengalir. Rasanya tentu tidak kalah enaknya dengan ke empat ikan sungai lainnya.

Cara Memasak

Masyarakat lokal memasak ke empat ikan ini dengan sederhana. Biasanya hanya disajikan dengan santan yang dibumbui denganrempah-rempah lokal dan dilengkapi dengan cabai giling yang cukup pedas. Rempah-rempah yang terdiri dari, bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, jahe dan cabai digiling sampai halus. Kemudian di masukkan ke santan yang mulai mendidih, ditambah dengan daun salam, serai dan garam. Setelah mendidih ikan dimasukkan.

Untuk gulai ini, biasanya sebelum ikan dicemplungkan ke dalam kuah santan tadi, ikan di asap terlebih dahulu untuk menambah rasa yang nikmat dan membuat daging ikan tidak cepat hancur. Gulai ikan ini disajikan dengan nasi yang dibungkus dengan daun dan lalapan timun serta daun ubi, Tak lupa sambal goreng yang menambah selera. Rasanya manis dan nikmat sekali.

Potensi Wisata Kuliner

Melihat kekayaan ikan sungai yang berada di semua sungai Kabupaten Bengkulu Selatan, seharusnya ini menjadi alternatif potensi wisata. Merujuk data BPS, potensi pariwisata Kabupaten Bengkulu Selatan masih tertuju pada objek wisata alam. Jika saja potensi ini dikembangkan secara maksimal, tentu saja dapat mengembangkan potensi wisata dan meningkatkan PAD. #Angger Wiji Rahayu

Related Posts

2 Responses

  1. Rita

    Ngilerngebayangin gulai Ikan Sema. Dimana di Bengkulu yg menjual ikan-ikan khas sungai di Kab Bengkulu Selatan? Bisa jadi kampanye wisata yg asik neh.

    Reply
  2. Salis Uswatun Khasanah

    Saya tertarik dengan informasi mengenai kekayaan alam diatas. Indonesia memang Negeri yang memiliki berbagai kekayaan alama dan budaya yang memiliki ciri khas dan keindahan masing-masing.Selain itu, tulisan diatas sangat menarik untuk dipelajari yang dapat membuat masyarakat takjub akan keadaan alamnya. Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Explore Indonesia yang bisa anda kunjungi di Explore Indonesia

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.